Minggu, 09 September 2012
Selasa, 03 Juli 2012
Sabtu, 31 Maret 2012
NYAMPLUNG.
Tumbuhan ini seperti asing didengar oleh anak-anak di jaman
sekarang, karena keberadaan tumbuhan tersebut
dibilang jarang ditemui di daerah-daerah tertentu..
Buah nyamplung berbentuk
bulat seperti duku tetapi didalamnya ada tempurung yang melindungi buah biji,
anak –anak sering menggunakan buah nyamplung untuk mainan seperti peluit, setelah isinya dibuang dan dilubangi
untuk lubang tiupan udara.
Tanaman pohon nyamplung dapat dipanen mulai sejak umur 5 – 50 tahun, setiap panen biasa
menghasikan 200 kg / panen.
Para peneliti telah menemukan bahwa buah nyamplung mempunyai
kandungan minyak yang tinggi, dan dimungkinkan dapat untuk mengganti solar dan
minyak tanah.
Harga bahan bakar minyak dunia yang cenderung meninggi,
pemerintah selalu mengalami kesulitan untuk membuat kebijakan terhadap harga minyak , berefek
adanya demo-demo yang memicu pada kekerasan antara aparat dan para demonstran
yang kadang anarkis.
Jika hasil penelitian itu dioptimalkan diharapkan dapat
mengurangi beban kebutuhan bahan bakar solar dan minyak tanah, sekaligus
membuka lapangan kerja bagi pencari kerja yang dari tahun ketahun meningkat.
Jumat, 30 Maret 2012
MENULIS BAHASA JAWA
Bahasa Jawa
, Sunda dan Bali banyak kata yang
berarti sama dan kedua bahasa daerah ini juga menggunakan huruf Jawa, di Bali hanya
ada beberapa huruf yang tidak digunakan, seperti huruf th (bacanya tho bukan to)
dan huruf d ( yang bacanya da bukan dha )
Penulisan
Bahasa Jawa yang Baku sangat diperlukan bagi seorang Penulis yang menggunakan penuturan bahasa Jawa, memang
penulisan itu kadang dibaca terasa janggal antara apa yang diucapkan dengan apa
yang ditulis tidak sama, apalagi Penulis tidak konsisten terhadap tulisan yang
dipaparkan.
Pembelajaran
Bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah-sekolah menggunakan bahasa baku, Harian
Suara Merdeka sering menulis dengan Bahasa Jawa dimana dapat membantu bagi Penulis,
bahasanya mudah dipahami dan berbobot walau masih banyak bahasa yang ditulis
perlu ditindaklanjuti dengan membuka kamus, karena tidak tahu artinya.
Mari kita
perhatikan contoh penulisan yang kadang kita dijumpai yaitu :
TULISAN BAKUNYA
|
MEMBACANYA
|
SEBAB
|
KETERANGAN
|
ARTINYA
|
wicaksana
|
Wicaksono
|
wicaksana dalam tulisan jawa tidak menggunakan taling tarung pada
huru s (sa) dan n (na)
|
Jika tidak menggunakan taling tarung maka dalam tulisan jawa hanya
menggunakan huruf H (ha)
|
Bijaksana
|
Lara (sakit)
Loro (2)
|
Loro
Loro
|
lara dalam tulisan jawa tidak perlu menggunakan taling tarung pada
huruf L (La) dan r (ra)
pada tulisan loro perlu adanya taling tarung
|
Coba perhatikan lara (artinya sakit) dan loro (artinya 2)
|
Sakit
Dua
|
Sithik
|
Sitik (penekanan agak berat pada tik)
|
Huruf th berbeda dengan t.
|
Coba perhatikan : kata tutuk (artinya mulut) dan thuthuk (artinya dipukul
dg alat pada bagian kepala) terasa jelas bedanya
|
Sedikit
|
Dhokar
Duwe
|
Dokar
Duwe
|
Huruf dh berbeda dengan d
Membacanya bukan dhuwe
|
Coba perhatikan : dhokar (artinya andong) dan (duwe artinya punya)
|
Andong/delman
Punya (mempunyai)
|
Menurut saya bahwa penulisan terhadap penuturan
bahasa dialek juga harus menggunakan penulisan yang baku. Bahasa Jawa terutama
bahasa krama ada yang antara tulisan dan bacanya beda contohnya:
TULISAN BAKUNYA
|
MEMBACANYA
|
ARTINYA
|
punika
|
meniko
|
adalah
|
punapa
|
menopo
|
apakah
|
Minggu, 25 Maret 2012
Sarasehan Komunitas Warung Megono, dengan tema " Mengangkat Bahasa Pekalongan sebagai Modal Kearifan Lokal" bertempat di Gedung Olah Raga Jetayu dihadiri oleh Wali kota Pekalongan dr. Basyir dan Wakil Walikota Alex, seminar ini dibuka oleh wakil walikota pada hari Sabtu, 23 Maret 2012 pukul 20.00 WIB dalam kursi undangan hadir pula wakil dari Kabupaten Pekalongan dan Batang diwakili oleh pejabat pentingnya.
Minggu, 19 Februari 2012
PERBINCANGAN TEMPO DOELOE.
Dalam sebuah kesempatan saya
bertemu dengan salah seorang pengusaha kuliner di tempat beliau buka usahanya
yaitu di Wonosobo, beliau bernama L.
Agus Tjugiarto tutur bahasnya sangat mengasikkan, bercerita tentang keadaan
Dieng dan Wonosobo, sangat menarik sekali perbincangan itu sambil mengelus jenggotnya
yang panjang terjuntai, pertemuan yang relative singkat itu seakan sudah kenal
lama dengan saya. Bapak yang berjenggot ini bukan hanya sekedar pengusaha hotel
dan kuliner saja tapi telah menulis tentang DIENG PLATEAU yang berada pada
ketinggian ±2093 m dpl terletak diantara dua daerah Kabupaten banjarnegara dan
Wonosobo.
Berdasarkan SK Gubernur Hindia
Belanda No 33, tanggal 6 September 1937. Nama Dieng berasal dari kata diyang atau dihyang yang artinya tempat Hyang / Dewa. Hyang sendiri artinya
arwah leluhur, sama artinya dengan tempat para dewa yang bagaikan nirwana
Sekitar abad ke-19 daerah Dieng Plateau sudah banyak dikunjungan orang baik
dari daerah sekitar maupun para turis mancanegara, namun sarana transportasi
belumlah sangat memadahi, banyaknya tikungan yang curam dan berkelok-kelok.
Kendaraan yang ada hanyalah andong, tandu dan kuda, dapat dibayangkan
transportasi menggunakan kuda atau tandu sambil menikmati keindahan alam
pegunungan.
Yang sangat mengesankan Bapak L.
Agus Tjugiarto memberikan gambaran tentang tarif transportasi waktu itu:
Sewa dokar/delman dari Wonosobo-Garung
Kuda setiap 1 pal ( ± 2 km)
Pengawal
Penandu 4 orang, tiap pal/orang
|
1,25 Gulden
0,25 Gulden
0,25 Gulden
0,05 Gulden
|
Langganan:
Postingan (Atom)



