Selasa, 03 Juli 2012

Gerak jalan sehat memperingati setahun Bupati Pekalongan Bapak A. Antono menjabat, pada hari Selasa, 26 Juni 2012 dengan mengambil rute ; dari depan kantor sekretaris daerah Kabupaten pekalongan ke arah timur-menuju arah jalan Sumbing-POM Bensin ke kiri - jalan Manurorejo - kembali ke tempat start.

Sabtu, 31 Maret 2012


NYAMPLUNG.
Tumbuhan ini seperti asing didengar oleh anak-anak di jaman sekarang, karena keberadaan tumbuhan tersebut  dibilang jarang ditemui di daerah-daerah tertentu..

 Buah nyamplung berbentuk bulat seperti duku tetapi didalamnya ada tempurung yang melindungi buah biji, anak –anak sering menggunakan buah nyamplung untuk mainan seperti  peluit, setelah isinya dibuang dan dilubangi untuk lubang tiupan udara.
Tanaman pohon nyamplung dapat dipanen  mulai  sejak umur 5 – 50 tahun, setiap panen biasa menghasikan 200 kg / panen.

Para peneliti telah menemukan bahwa buah nyamplung mempunyai kandungan minyak yang tinggi, dan dimungkinkan dapat untuk mengganti solar dan minyak tanah.
Harga bahan bakar minyak dunia yang cenderung meninggi, pemerintah selalu mengalami kesulitan untuk membuat  kebijakan terhadap harga minyak , berefek adanya demo-demo yang memicu pada kekerasan antara aparat dan para demonstran yang kadang anarkis.

Jika hasil penelitian itu dioptimalkan diharapkan dapat mengurangi beban kebutuhan bahan bakar solar dan minyak tanah, sekaligus membuka lapangan kerja bagi pencari kerja yang dari tahun ketahun meningkat.

Jumat, 30 Maret 2012


MENULIS BAHASA JAWA
Bahasa Jawa , Sunda dan Bali  banyak kata yang berarti sama dan kedua bahasa daerah ini juga menggunakan huruf Jawa, di Bali hanya ada beberapa huruf yang tidak digunakan, seperti huruf th (bacanya tho bukan to) dan huruf d ( yang bacanya da bukan dha )
Penulisan Bahasa Jawa yang Baku sangat diperlukan bagi seorang Penulis  yang menggunakan penuturan bahasa Jawa, memang penulisan itu kadang dibaca terasa janggal antara apa yang diucapkan dengan apa yang ditulis tidak sama, apalagi Penulis tidak konsisten terhadap tulisan yang dipaparkan.
Pembelajaran Bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah-sekolah menggunakan bahasa baku, Harian Suara Merdeka sering menulis dengan Bahasa Jawa dimana dapat membantu bagi Penulis, bahasanya mudah dipahami dan berbobot walau masih banyak bahasa yang ditulis perlu ditindaklanjuti dengan membuka kamus, karena tidak tahu artinya.
Mari kita perhatikan contoh penulisan yang kadang  kita dijumpai yaitu :
TULISAN BAKUNYA
MEMBACANYA
SEBAB
KETERANGAN
ARTINYA
wicaksana
Wicaksono
wicaksana dalam tulisan jawa tidak menggunakan taling tarung pada huru s (sa) dan n (na)
Jika tidak menggunakan taling tarung maka dalam tulisan jawa hanya menggunakan huruf H (ha)

Bijaksana
Lara (sakit)




Loro (2)
Loro




Loro
lara dalam tulisan jawa tidak perlu menggunakan taling tarung pada huruf L (La) dan r (ra)
pada tulisan loro perlu adanya taling tarung

Coba perhatikan lara (artinya sakit) dan loro (artinya 2)
Sakit




Dua
Sithik
Sitik (penekanan agak berat pada tik)
Huruf th berbeda dengan t.
Coba perhatikan : kata tutuk (artinya mulut) dan thuthuk (artinya dipukul dg alat pada bagian kepala) terasa jelas bedanya
Sedikit
Dhokar



Duwe
Dokar



Duwe
Huruf dh berbeda dengan d


Membacanya bukan dhuwe
Coba perhatikan : dhokar (artinya andong) dan (duwe artinya punya)
Andong/delman



Punya (mempunyai)
Menurut saya bahwa penulisan terhadap penuturan bahasa dialek juga harus menggunakan penulisan yang baku. Bahasa Jawa terutama bahasa krama ada yang antara tulisan dan bacanya beda contohnya:
TULISAN BAKUNYA
MEMBACANYA
ARTINYA
punika
meniko
adalah
punapa
menopo
apakah














Minggu, 25 Maret 2012

Sarasehan Komunitas Warung Megono, dengan tema " Mengangkat Bahasa Pekalongan sebagai Modal Kearifan Lokal" bertempat di Gedung Olah Raga Jetayu dihadiri oleh Wali kota Pekalongan dr. Basyir dan Wakil Walikota Alex, seminar ini dibuka oleh wakil walikota pada hari Sabtu, 23 Maret 2012 pukul 20.00 WIB dalam kursi  undangan hadir pula wakil dari Kabupaten Pekalongan dan Batang diwakili oleh pejabat pentingnya.

Minggu, 19 Februari 2012


PERBINCANGAN TEMPO DOELOE.
Dalam sebuah kesempatan saya bertemu dengan salah seorang pengusaha kuliner di tempat beliau buka usahanya yaitu di Wonosobo, beliau bernama  L. Agus Tjugiarto tutur bahasnya sangat mengasikkan, bercerita tentang keadaan Dieng dan Wonosobo, sangat menarik sekali perbincangan itu sambil mengelus jenggotnya yang panjang terjuntai, pertemuan yang relative singkat itu seakan sudah kenal lama dengan saya. Bapak yang berjenggot ini bukan hanya sekedar pengusaha hotel dan kuliner saja tapi telah menulis tentang DIENG PLATEAU yang berada pada ketinggian ±2093 m dpl terletak diantara dua daerah Kabupaten banjarnegara dan Wonosobo.
Berdasarkan SK Gubernur Hindia Belanda No 33, tanggal 6 September 1937. Nama Dieng berasal dari kata diyang atau dihyang yang artinya tempat Hyang / Dewa. Hyang sendiri artinya arwah leluhur, sama artinya dengan tempat para dewa yang bagaikan nirwana
Sekitar abad ke-19 daerah Dieng  Plateau sudah banyak dikunjungan orang baik dari daerah sekitar maupun para turis mancanegara, namun sarana transportasi belumlah sangat memadahi, banyaknya tikungan yang curam dan berkelok-kelok. Kendaraan yang ada hanyalah andong, tandu dan kuda, dapat dibayangkan transportasi menggunakan kuda atau tandu sambil menikmati keindahan alam pegunungan.
Yang sangat mengesankan Bapak L. Agus Tjugiarto memberikan gambaran tentang tarif transportasi waktu itu:
Sewa dokar/delman dari Wonosobo-Garung
Kuda setiap 1 pal ( ± 2 km)
Pengawal
Penandu 4 orang, tiap pal/orang
1,25 Gulden
0,25 Gulden
0,25 Gulden
0,05 Gulden


Setelah saya mohon diri untuk segera makan pagi, Bapak L. Agus Tjugiarto beranjak menuju lemari kaca yang ada di sebelah kanan pintu rumah makan itu, kemudian mengambil sebuah buku berjudul DIENG PLATEAU Dataran Tinggi Dieng Jawa Tengah, Indonesia yang ditulis dan diterbitkannya  atas beaya sendiri pada tahun 2007, buku itu diberikan kepada saya,  katanya sebagai tanda kenangan , disertai tanda tangan beliau dan diberi tanggal 16 Februari 2012. Terima kasih Pak L.Agus Tjugiato

Minggu, 08 Januari 2012

 (batik koleksi pramudiyono m.dh )
BAHASA JAWA PEKALONGAN

Bahasa Jawa Pekalongan atau Dialek Pekalongan adalah salah satu dari dialek-dialek Bahasa Jawa yang dituturkan di pesisir utara tanah Jawa, yaitu daerah Jawa Tengah terutama di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dialek Pekalongan termasuk bahasa "antara" yang dipergunakan antara daerah Tegal (bagian barat), Weleri (bagian timur), dan daerah Pegunungan Kendeng (bagian selatan).
Dialek Pekalongan termasuk dialek Bahasa Jawa yang "sederhana" namun "komunikatif". Meskipun ada di Jawa Tengah, dialek Pekalongan berbeda dengan daerah pesisir Jawa lainnya, contohnya Tegal, Weleri/Kendal, dan Semarang. Namun oleh orang Jogya atau Solo, dialek itu termasuk kasar dan sulit dimengerti, sementara oleh orang Tegal dianggap termasuk dialek yang sederajat namun juga sulit dimengerti.

SEJARAH
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, Pekalongan termasuk daerah Kesultanan Mataram. Awalnya dialek Pekalongan tak berbeda dengan bahasa yang dipergunakan di daerah Kesultanan Mataram. Namun seterusnya ada zaman di mana bahasa-bahasa Jawa terutama dialek Pekalongan mulai terlihat berbeda karena asimilasi dengan budaya lain. DialekPekalongan baku zaman itu tadi sudah tak digunakan lagi pada dialek Pekalongan zaman sekarang.
Zaman sekarang banyak orang Pekalongan yang bekerja menjadi juragan Batik, tenun, dan tekstil, dan tetap menggunakan dialek tersebut yang mudah dimengerti orang Pekalongan sendiri. Adanya para juragan, pedagang juga para nelayan di daerah kota dan pinggiran Pekalongan, mewujudkan tersebarnya dialek ini.

CIRI KHAS
Meskipun dialek Pekalongan banyak menggunakan kosakata yang sama dengan Dialek Tegal, misalnya: bae, nyong, manjing, kaya kuwe, namun pengucapannya tak begitu "kental" melainkan lebih "datar" dalam pengucapannya.
Ada lagi perbedaan lainnya, contohnya menggunakan pengucapan: ri, ra, po'o, ha'ah pok, lha, ye.
Demikian pula adanya istilah yang khas, seperti: Kokuwe artinya "sepertimu", Tak nDangka'i artinya "aku kira", Jebhul no'o artinya "ternyata", Lha mbuh artinya "tidak tau", Ora dermohoartinya "tak sengaja", Wegah ah artinya "tak mau", Nghang priye artinya "bagaimana", Di Bya bae ra artinya "dihadapi saja", dan masih banyak lainnya.

CONTOH KALIMAT
DIALEK KOTA
Di bawah ini adalah contoh dialek yang digunakan di Kota Pekalongan. Eratnya budaya orang Pekalongan dengan budaya Arab dan Tionghoa menambah kosakata dan dialek di Pekalongan. Biasanya, para keturunan Tionghoa di Pekalongan juga berbicara dialek Pekalongan yang bercampur dengan bahasa Indonesia.
Dialek Pekalongan: Lha kowe pak ring ndi si?
Bahasa Indonesia: Kamu mau ke mana?

Dialek Pekalongan: Yo wis kokuwe po'o ra
Bahasa Indonesia: Ya sudah begitupun tak apa

Dialek Pekalongan: Tak ndangka'i lanang jebulno'o wadhok
Bahasa Indonesia: Aku kira lelaki ternyata perempuan

Dialek Pekalongan: Wallahi temenan po'o nyong ra ngapusi, yakin (pengaruh bahasa (Arab)

Bahasa Indonesia: Demi Allah aku tak berdusta, yakin

Dialek Pekalongan: Ya Allah, ke ra mosok ra percoyo si (pengaruh bahasa Arab)
Bahasa Indonesia: Ya Allah, mengapa tak percaya sekali
Dialek Pekalongan: Lha tadi sudah tak bilangke tapi ndak ngerti yo wis (pengaruh (bahasa Tionghoa)
Bahasa Indonesia: Tadi sudah kukatakan namun tak mengerti ya sudahlah

Dialek Pekalongan: mbok diambilke (pengaruh bahasa Tionghoa)
Bahasa Indonesia: Tolong ambilkan

DIALEK LUAR KOTA
Penggunaan dialek Pekalongan di daerah agak pinggir dari daerah kota, ada perbedaan sedikit pada pengucapannya. Banyak huruf vokal dan konsonan yang diucapkan agak "kental", umumnya dengan penambahan huruf "h" dalam pengucapannya. Bentuk dialek ini dipergunakan di daerah Batang (di bagian timur), Pemalang/Wiradesa (di bagian barat), sertaBandar/Kajen (di bagian selatan).
CONTOH:
Kata banyu (air) diucapkan benhyu
Kata Iwan (nama) diucapkan I-whan
Kata bali (pulang) diucapkan bhelhi
"Brahim" (nama: Ibrahim) diucapkan Brehiim
Contoh kalimat:
Wis ho, nyong pak bhelhi ndikik (Sudah ya, aku akan pulang dahulu)

Sumber : wikipedia.org